Dancing Plague | Tiktok Syndrom ditahun 1518


    Dancing Plague atau sebuah syndrome orang menari - nari tidak jelas, yang sampai detik ini belum bisa digambarkan dengan baik dari sketsa-sketsa yang diberikan pada era tersebut yang akhirnya dicoba direpresentasikan menjadi sebuah cerita pada masa sekarang. Dancing Plague terjadi pada 14 Juli 1518 di kota Strasbourg sebuah kota suci Romawi Pada masa itu yang sekarang berada di perbatasan antara Prancis ke Jerman.

    Seorang wanita bernama Frau Troffea keluar dari rumahnya pada suatu hari tiba-tiba setelah keluar dari rumah dia nari-nari nggak jelas dengan deskripsi pada saat itu yang  tercatat di negaranya yaitu wajahnya bergerak – gerak / otot – otot di wajah menjadi tidak jelas. Lalu tangan dan kaki juga bergerak, sehingga memang symptoms/sebuah tanda/gejala hampir mirip dengan menari, oleh karena itu maka disebut dengan Dancing Plague. Mudahnya dengan mengimajinasikan tarian dari lagu dari LMFAO ft. Lauren Bennett, GoonRock - Party Rock Anthem yang kemungkinan lagu tersebut terinspirasi dengan syndrome Dancing Plague.

        

Dancing Plague

LMFAO ft. Lauren Bennett, GoonRock - Party Rock Anthem

    Namun ternyata kejadian Troffea yang menari tidak jelas ini terjadi bukan dengan kesadaran sendiri atau menari dengan tidak sadar diri. Troffea terus menari sampai dua hari dua malam dan tidak bisa berhenti, tentunya orang-orang yang berada disekitarnya pada saat itu apalagi tahun 1500-an banyak yang bingung tentunya dengan kelakuan Troffea. Akhirnya muncul sebuah asumsi yang sangat lumrah pada kala itu yaitu kelakuan Troffea dinyatakan kemungkinan terkena kutukan atau kemasukan iblis, karena pengaruh kotanya yang pada saat itu cukup spiritual sekali, sehingga memikirkan segala sesuatu yang terjadi berbau dengan spiritualitas

    Proses setelah nari – menari tidak jelas yang dialami Troffea berefek ke semua badannya menjadi bengkak, mulai dari tangan sampai kaki. karena Troffea terus – menerus menari tanpa adanya istirahat sama sekali dan ditambah Troffea menari tanpa adanya kesadaran diri. Kemudian karena saking capeknya Troffea menari - nari di luar kendalinya, akhirnya Troffea tertidur total berapa saat deep sleep. Namun pada saat bangun lagi, sesuai dengan catatan saksi dari keluarganya yaitu suaminya pada saat itu, suaminya mengatakan bahwa pada saat itu Troffea setelah bangun langsung menari lagi tanpa sadar. Pada saat itu juga belum ada penjelasan ilmiah yang bisa menjelaskan fenomena itu, kecuali mempercayai bahwa itu adalah aksi dari iblis yang mengendalikan tubuhnya Troffea yang memang masih jadi misteri sampai tahun ini belum terpecahkan.

    Lalu beberapa mitos muncul soal cerita budaya lama, yaitu ST.Vitus seseorang Santo yang mati Martir di zaman 303 yang sebelum kematiannya berkata akan mengutuk para pendosa dengan tarian yang tidak dapat dikendalikan saat dia marah, yang menjadikan kesimpulan bahwa mungkin aja Troffea menjadi sebuah teguran bagi para penduduk di sana untuk tidak melakukan banyak dosa melalui tubuhnya Troffea, yang mirip dengan profesinya ST.Vitus. Karena Troffea terus-menerus nggak berhenti dari tariannya tidur bangun nari lagi tidur bangun hari lagi seperti menjadi sebuah rutinitas, maka pemerintah memberi solusi kepada masyarakat setempat adalah membawa Troffea ke sebuah kuil di atas Gunung Vosges untuk menyatakan dosa-dosa dari Troffea agar kutukannya diangkat oleh Santo Vitus. Namun dengan cara pengakuan dosa dari Troffea tidak menghasilkan apapun tetapi justru kondisi di kota menjadi semakin parah keadaannya, yang mana Dancing Plague menjadi makin tersebar dengan cepat di kota mengakibatkan sekitar 30 orang lebih yang tiba-tiba juga menari tidak jelas di tempat umum dan juga rumah sama seperti Troffea. Kejadian ini terjadi saat Troffea di ajak ke atas gunung yang untuk menyatakan dosa-dosanya atau menyatakan dosa-dosanya oleh orang-orang terdekatnya, namun malah di kota terjadi Dancing Plague juga sebanyak 30 orang.

ST.Vitus

Dancing Plague

    Pada akhirnya Dancing Plague mencapai titik puncak yang menyebabkan sekitar 400 orang lebih ikut menari sampai kejalanan. Bahkan penyakit ini berlangsung selama sekitar 2 bulan lamanya. Penyakit ini membuat setidaknya 15 orang pengidap meninggal setiap seharinya sampai totalnya tercatat terdapat sekitar 100 orang lebih yang meninggal akibat penyakit Dancing Plague pada kala itu.

    Pemerintahpun mengeluarkan peraturan yang cukup aneh untuk bisa menyelesaikan atau menanggulangi penyakit nari – nari ini, imana mereka yang mengidap penyakit nari-nari aneh ini dihimbau oleh pemerintah untuk keluarganya supaya bisa menemani sang pengidap, untuk menari sampai capek sendiri dan berhenti, meskipun resikonya bisa juga mengalami kematian. Pada saat itu pemerintah menganggap penyakit ini disebabkan darah di kepala yang terlalu penuh itu yang membuat para pengidap itu jadi nari-nari. Pemerintah pada saat itu memikirkan cara satu-satunya untuk menghentikannya karena belum terdapat obatnya, yaitu dengan cara membiarkan mereka para pengidap untuk terus tari – menari. Bahkan pemerintah memfasilitasi kebijakannya dengan menyediakan banyak orang-orang besar dan kuat untuk bisa membantu memegang para pengidap yang sudah lemas dan tidak sanggup untuk berdiri, namun tetap dipaksa untuk menari supaya badan para pengidapnya tidak rusak. Jadi badan pengidap sakit nari – nari diangkat supaya orang tersebut bisa terus menggerakkan anggota badannya seperti tari menari supaya cepat sembuh kata pemerintahnya alias sang pengidap harus menari secara maksimal. Selain itu pemerintah juga menyewa musisi-musisi di kotanya untuk menemani para pengidap untuk terus menari. Namun kebijakan tersebut cukup aneh dan tidak membantu keadaan, justru malah membuat kondisi semakin parah dan menyebabkan kematian. Sehingga akhirnya pemerintah melakukan kebijakan lain yang bertentangan dengan kebijakan sebelumnya yang mengharuskan para pengidapnya yang menari-nari tidak boleh lagi ditemani. Bahkan musik dilarang, tempat musik dilarang untuk dibuka, dan apapun jenis musik yang diputar juga tidak diperbolehkan dan tidak ada pengidap yang melakukan tari – menari di jalanan seperti di karantina mandiri.

    Pemerintah kembali mengatakan bahwa mungkin saja kejadian ini memang kemarahan tuhan sehingga kota itu harus disucikan dan jangan lagi berbuat dosa. Semenjak terdapat kebijakan tersebut para pengidap tari – menari dipakaikan sepatu merah supaya nyaru dengan darah dikakinya, kemudian semua para pengidap penyakit diajak ke atas bukit ke tempat yang ditujukan oleh ST.Vitus sama seperti yang dialami oleh Troffea untuk kembali meminta pengampunan supaya mereka bisa disembuhkan dan bisa kembali normal. Secara Magis akhirnya penyakit nari-nari ini tiba-tiba berhenti setelah beberapa minggu.

    Meski demikian pemerintah tetap dinilai tidak mampu mengendalikan penyakit ini dan terkesan plin-plan dalam penanganannya di satu sisi para pengidap boleh menari namun tiba – tiba muncul kebijakan bahwa para pengidap tidak boleh menari sama sekali, bahkan musik menjadi dilarang. Masih menjadi misteri sebenarnya apa penyebab kejadian Dancing Plague ini, sampai pengidapnya dapat menari tanpa henti hingga seminggu penuh tanpa istirahat.

    Saat ini banyak penelitian modern yang coba mengungkap misteri dibalik Dancing Plague ini. Ada yang berasumsi bahwa ini adalah efek dari jamur yang berada di ladang gandum yang menghasilkan zat-zat mirip LSD yang membuat efek halusinasi. Asam lisergat dietilamida (LSD) merupakan jenis bahan kimia baru yang bersifat halusinogen yang diperoleh jamur yang tumbuh pada tanaman gandum hitam. Bahan kimia atau obat ini, berbentuk seperti kertas seukuran dengan prangko dan memiliki varian warna serta gambar. Biasanya LSD lekat dengan istilah psikedelik. Walaupun terdapat peneliti lain yang menyatakan bahwa penyakit ini terjadi di beberapa tempat dan tidak semua tempat terdapat ladang gandum, sehingga membuat statemen dari penelitian tersebut dirasa kurang konkrit karena buktinya dianggap kurang nyata. Karena tidak semua kota yang terkena Dancing Plague mempunyai ladang gandum atau mempunyai lahan untuk menanam gandum, karena sebenarnya tidak hanya di kota ini aja tapi di kota lain juga terjadi hal-hal yang mirip. Setelah di teliti kemudian memang tidak semua kota tersebut mempunyai ciri khas yang sama. Sehingga memang belum ada yang tahu sebenarnya penyakit nari – nari ini berasal dari mana. Kemudian ada yang bilang dikarenakan stres yang berlebihan sehingga mengakibatkan penyumbatan di otak, sehingga membuat para pengidapnya menjadi epilspsi.

Gandum Hitam

Jamur LSD
    Penelitian terakhir mengatakan bahwa penyakit Dancing Plague dari Mass Hysteria. Dalam sosiologi and psikologi, Mass Hysteria (juga dikenal sebagai histeria kolektif, histeria grup atau perilaku obsesional kolektif) adalah sebuah fenomena penyebaran ilusi ancaman kolektif, entah nyata atau khayalan, kepada sekelompok orang dalam masyarakat sebagai akibat dari rumor dan ketakutan (pengetahuan ingatan). Dalam kedokteran, istilah tersebut dipakai untuk menyebut manifestasi spontan (produksi kimia dalam tubuh) dari gejala fisik histeria yang mirip atau sama dari lebih dari satu orang. Jenis umum dari histeria massa terjadi saat sekelompok orang meyakini bahwa mereka terserang penyakit atau gejala yang sama, terkadang disebut sebagai penyakit psikogenik massa atau histeria epidemic. Seperti Ensayeti/cemas pada keramaian atau kerumunan yang menjadikan rasa tidak nyaman dengan semua manusia, sehingga menjadikan otak menjadi Ensayeti membuat badan menjadi bergerak.

Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Histeria_massa. [Diakses pada 26 Maret 2021]
Saya adalah manusia

1 Komentar untuk "Dancing Plague | Tiktok Syndrom ditahun 1518"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel